Category: Edukasi

Tips Mendapatkan Harga Bawang Putih Tunggal

Bawang putih tunggal terbukti mengandung zat istimewa yang tidak dimiliki bawang lainnya. Zat istimewa yang dimaksud adalah minyak atsiri dan juga allisin. Keduanya, sangat baik untuk mencegah dan mengobati berbagai penyakti karena tergolong anti bakteri, antiseptik, dan juga anti kanker. Tak heran, banyak orang yang lebih memilih bawang putih tunggal dibandingkan dengan bawang putih biasa. Manfaat dari bawang putih tunggal memang banyak, salah satunya adalah mampu menurunkan kolesterol. Penyakit ini tentu saja dialami banyak orang dan mereka kesusahan untuk menurunkan kadar kolesterol yang dimiliki. Untuk soal harga, harga bawang putih tunggal ini memang lebih mahal dari bawang putih biasa. Tetapi mengingat banyaknya manfaat yang di dapat, rasanya sepadan dengan harganya. Walau tergolong mahal, tetapi ada tips untuk bisa mendapatkan bawang putih tunggal yang tidak terlalu tinggi.

Tips pertama untuk bisa mendapatkan harga bawang putih tunggal adalah soal kategori bawangnya. Pilihlah bawang putih tunggal lokal atau hasil panen petani Indonesia dibandingkan produk impor. Bawang putih tunggal sudah banyak ditanam oleh petani khususnya di Jawa Timur. Bawang putih tunggal dari Jawa Timur pun sudah dikonsumsi dan dipercaya oleh banyak daerah lainnya di Indonesia termasuk di ekspor ke luar negeri. Dengan membeli bawang putih tunggal lokal, harga yang didapat bisa lebih murah. Selain itu, harga dari bawang putih tungga bisa murah jika anda memilih toko dengan cermat. Saat ini, tidak perlu repot datang langsung ke Jawa Timur jika anda tidak tinggal di sana. Cukuplah cari di internet dan akan ditemukan toko online yang menjual bawang jenis ini. Harga di toko online pun beragam. Maka dari itu, cermatlah membeli bawang putih tungggal dari toko online yang berani menjual murah. Mereka yang menjual murah biasanya lantaran hasil langsung dari lading atau petani sehingga tidak ada rantai distribusi terlalu panjang.

Jika beuntung, anda akan menemukan harga bawang putih tunggal yang sangat murah. Saat ini, harga dari bawang putih tunggal ini berkisar Rp 27.500 untuk 100 gramnya. Tetapi jika membelinya dalam jumlah banyak, per 1000 gramnya bisa didapat dengan harga Rp 190.000.

Memegang Kendali Pendidikan Anak

Banyak orang yang menjadikan sekolah sebagai tumpuan bagi pendidikan anak-anaknya. Bahkan, tidak sedikit yang seolah telah membebaskan dirinya dari kewajiban mendidik anak-anaknya, setelah ia memasukkan anaknya ke sekolah. Segala sesuatu diserahkan ke sekolah. Ibarat orang mengirim pakaian kotor ke binatu, ia cukup mebayar, lalu menerima hasilnya saja, berupa pakaian bersih. Tidak sedikit pula yang kecewa dengan pihak sekolah, tapi tidak sanggup berbuat apa-apa. Seorang ibu mengadu pada saya, di sekolah anaknya diajarkan pandangan bahwa musik itu haram. Ia sendiri tidak menganggapnya begitu. Perbedaan pandangan itu bisa saja menjadi sumber konflik dengan anak. Bagaimana memberi tahu anak mengenai pandangan lain soal musik?

Di situlah pentingnya peran kita sebagai pengendali pendidikan anak. Ingat, tanggung jawab pendidikan anak ada pada kita, bukan pada sekolah. Bagaimana pun juga, sekolah hanya pembantu kita dalam pendidikan. Peran utama, kendali, harus ada pada kita. Kenapa? Karena ini anak kita. Sebagus apapun sekolah, yang berada di situ adalah orang lain. Bagaimana bersikap terhadap sekolah? Sekolah adalah mitra kita dalam mendidik anak. Ketika hendak memasukkan anak ke sekolah, kita memilih sekolah yang cocok. Apa dasarnya? Dasarnya adalah prinsip kita tentang pendidikan anak. Kita punya prinsip dan konsep. Maka kita cari sekolah yang cocok dengan prinsip itu, atau setidaknya mendekati. Jangan sampai kita memasukkan anak ke sekolah yang tidak cocok dengan prinsip kita.

Sekali lagi, sekolah adalah mitra. Artinya, kita juga harus memberi masukan kepada sekolah soal muatan pendidikan yang mereka lakukan. Saya sering menyampaikan kritik kepada guru-guru di sekolah anak saya. Pernah saya tegur kepala sekolah soal kurangnya tempat sampah pada acara di sekolah, sehingga sampah bertebaran. Di lain waktu saya tegur soal AC yang menyala di ruangan kelas yang tidak sedang dipakai. Minggu lalu saya hadir rapat di sekolah anak, untuk persiapan jambore pramuka yang akan diikuti anak saya. Salah satu hal yang dibahas adalah soal pintu gerbang tenda yang menurut saya berbiaya mahal. Gurunya dengan bangga bercerita bahwa gerbang ini nanti akan dikerjakan oleh tukang yang terampil (profesional, istilah dia), dan kemungkinan besar akan memenangkan kompetisi. Usai penjelasan, saya tanya, ”Unsur pendidikan apa yang sedang kita lakukan melalui gerbang megah ini?”

Guru tadi gelagapan, memberi jawaban berputar-putar. Kepala sekolah ikut menjawab, tapi tetap tanpa substansi yang menjawab pertanyaan saya. Saya paham, karena mereka memang tidak punya jawaban. Mereka sedang khilaf, lupa soal apa itu substansi pendidikan. Akhirnya ada guru yang menjelaskan bahwa para siswa nantinya akan terlibat dalam pembangunan gerbang. Saya anggap jawaban itu sejenis jawaban emergency. Poin saya adalah, teruslah mengingatkan guru-guru tentang hakikat pendidikan. Saya rewel kepada guru-guru anak saya, bukan karena tidak percaya kepada sekolah. Saya sedang menjalankan peran sebagai pengendali pendidikan anak saya. Sekolah adalah mitra saya. Saya juga memantau, nilai-nilai apa yang diajarkan di sekolah anak saya. Dalam suasana Natal tertangkap dari pembicaraan bahwa anak-anak di sekolah diajarkan untuk tidak mengucapkan selamat Natal. Pelan-pelan pandangan itu saya koreksi di rumah. Bagaimana caranya? Kembali ke prinsip tadi. Kita adalah pengendali muatan pendidikan anak-anak kita. Sekolah hanyalah pembantu. Dalam makna lain, sekolah adalah lingkungan yang memberi pengaruh pada anak-anak kita.

Sumber : kompas.com

Menggodok SMK, Mengejar Ketertinggalan SDM Berbasis TIK

Ketua Komite Penyelarasan Teknologi Informasi dan Komunikasi (KPTIK), Ir Dedi Yudiant, mengatakan bahwa minimnya sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten di bidang Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) menyebabkan Indonesia belum mampu bersaing dengan negara maju lainnya di dunia.

Dedi melihat visi ekonomi digital yang digaungkan Presiden RI Joko Widodo harus bersinergi dengan visi lain Presiden terkait penyiapan tenaga terampil, yaitu melalui jalur pendidikan vokasi. Sejak awal menjabat, Presiden meminta pendidikan vokasi makin dikedepankan, termasuk menyatakan bakal lebih dibutuhkannya lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) ketimbang sekolah umum.

“Tenaga-tenaga terampil di bidang teknologi informasi dan komunikasi ini harus dipasok sebanyak-banyaknya. Cara paling cepat dan masif, ya lewat SMK,” ujar Dedi pada diskusi “Pemetaan Kebutuhan dan Penyiapan SDM TIK 2017” di Kantor Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Tenaga Kerja RI, Kuningan, Jakarta, Selasa (31/1/2017).

Sayangnya, dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) 2015 lalu, ‎angka pengangguran di Indonesia meningkat 300 ribu orang selama setahun dari Februari 2014 sampai Februari 2015. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) didominasi penduduk berpendidikan Sekolah Menengah Atas (SMK) sebesar 9,05 persen, lalu disusul pada jenjang Sekolah Menengah Atas 8,17 persen, dan Diploma I/II/III sebesar 7,49 persen.

Adapun TPT terendah ada pada penduduk berpendidikan SD ke bawah dengan prosentase 3,61 persen di periode Februari 2015 lalu. Tingginya tingkat pengangguran lulusan SMK itulah yang menjadi kekhawatiran Dedi.

“SMK itu memberikan banyak SDM, tapi sekaligus juga menyumbang pengangguran terbanyak. Bagi praktisi TIK ini tantangan sekaligus potensi ke depan. Kita punya SDM, tinggal memolesnya dengan pelatihan-pelatihan yang tepat dan didukung kurikulum yang dibutuhkan industri,” kata Dedi.

Sumber : kompas.com